Jumat, Juli 03, 2009

Mengembangkan Guru PAI yang Profesional

oleh; Laily Fitriya, S.Pd.I

Guru dalam Islam adalahyang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan ia mampu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu yang mandiri (Nurdin: 156)
Guru sebagai pemegang jabatan profesional membawa misi ganda dalam waktu yang bersamaan, yaitu misi agama dan misi ilmu pengetahuan. Misi agama menuntut guru untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama kepada anak didik, sehingga anak didik dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi ilmu pengetahuan menuntut guru menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan zaman.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran, 3 : 164)
Dari ayat diatas, dapat ditarik kesimpulan yang utama bahwa Rasulullah selain Nabi juga sebagai pendidik (guru). Oleh karena itu tugas utama guru menurut ayat tersebut adalah :
1.Penyucian, yakni pengembangan, pembersihan dan pengangkatan jiwa kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan menjaga diri agar tetap berada pada fitrah.
2.Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah kepada akal dan hati kaum Muslimin agar mereka merealisasikannya dalam tingkat laku kehidupan.
Jadi tugas guru dalam Islam tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi juga sebagai norm drager (pembawa norma) agama di tengah-tengah masyarakat. Jika manusia lahir membawa kebaikan-kebaikan (fitrah) maka tugas pendidikan harus mengembangkan elemen-elemen (baik) tersebut yang dibawanya sejak lahir. Dengan begitu apapun yang di ajarkan di sekolah jangan sampai bertentangan dengen prinsip-prinsip fitrahnya tersebut.
Pada lazimnya pendidikan dipahami sebagai fenomena individual di satu pihak dan fenomena sosial di pihak lain. seorang guru akan terbantu jika ia memahami dan memiliki gagasan yang jelas tentang fitrah manusia, sebagaimana seorang pelukis atau pandai besi yang harus memahami karakteristik material yang dihadapinya. Praktek pendidikan akan menemui kegagalan kecuali jika dibangun di atas konsep yang jelas tentang fitrah manusia.
Tugas mengajar dan mendidik diumpamakan dengan sumber air. Sumber air itu mengalir dan bergabung dengan air lainnya, berpadu menjadi satu berupa sungai yang mengalir sepanjang masa. Kalau sumber air tidak diisi terus menerus, maka sumber air itu kering. Demikian juga jabatan guru, jika guru tidak berusaha menambah pengetahuan yang baru melalui membaca dan terus belajar maka materi sajian waktu mengajar akan gersang.
Oleh karena itu ia perlu berusaha untuk tumbuh baik secara pribadi maupun secara profesi. Karenanya jabatan guru dapat diilustrasikan sebagai sumber air yang terus menerus mengalir sepanjang karir seseorang.
A. Pengembangan Profesionalitas
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Nurdin: 4).
Tatty S.B. Amran, seorang profesional muda mengatakan bahwa “untuk pengembangan profesionalitas diperlukan KASAH”. Oleh karena itu didalam pembahasan masalah pengembangan profesionalitas tidak akan terlepas dari kata kunci tersebut yaitu (Kirani: 11) :
a. Knowledge (pengetahuan), adalah sesuatu yang didapat dari membaca dan pengalaman. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan (analisis). Jadi pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dibaca, di pelajari dan dialami oleh setiap orang. Namun, pengetahuan seseorang harus di uji dulu melalui penerapan di lapangan. Dalam mengembangkan profesionalisme guru, menambah ilmu pengetahuan adalah hal yang mutlak. Guru harus mempelajari segala macam pengetahuan, akan tetapi juga harus mengadakan skala prioritas. Karena menunjang keprofesionalan sebagai guru, menambah ilmu pengetahuan tentang keguruan sangat perlu. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang dipelajari semakin banyak pula wawasan yang di dapat tentang ilmu.
b. Ability (kemampuan), adalah terdiri dua unsur yaitu yang bisa dipelajari dan yang alamiah. Pengetahuan dan keterampilan adalah unsur kemampuan yang bisa dipelajari sedangkan yang alamiah orang menyebutnya dengan bakat. Jika hanya mengandalkan bakat saja tanpa mempelajari dan membiasakan kemampuannya maka dia tidak akan berkembang. Karena bakat hanya sekian persen saja menuju keberhasilan, dan orang yang berhasil dalam pengembangan profesionalisme itu ditunjang oleh ketekunan dalam mempelajari dan mengasah kemampuannya. Oleh karena itu potensi yang ada pada setiap pribadi khususnya seroang guru harus terus diasah. Oleh karena itu seorang guu yang profesional tentunya tidak ingin ketinggalan dalam percaturan global.
c. Skill (keterampilan), merupakan salah satu unsur kemampuan yang dapat dipelajari pada unsur penerapannya. Suatu keterampilan merupakan keahlian yang bermanfaat untuk jangka panjang. Banyak sekali keterampilan yang dibutuhkan dalam pengembangan profesionelisme, tergantung pada jenis pekerjaan masing-masing. Keterampilan mengajar merupakan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas guru dalam pengajaran. Bagi seorang guru yang tugasnya mengajar dan peranannya di dalam kelas, keterampilan yang harus dimilikinya adalah guru sebagai pengajar, guru sebagai pemimpin kelas, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pengatur lingkungan, guru sebagai partisipan, guru sebagai ekspeditur, guru sebagai perencana, guru sebagai supervisor, guru sebagai motivator, guru sebagai penaya, guru sebagai pengajar, guru sebagai evaluator dan guru sebagai konselor.
d. Attitude (sikap diri), sikap diri seseorang terbentuk oleh suasana lingkungan yang mengitarinya. Oleh karenanya sikap diri perlu dikembangkan dengan baik. Bahwa kepribadian menyangkut keseluruhan apsek seseorang baik fisik maupun psikis dan dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh dari pengalaman. Kepribadian bukan terjadi dengan tiba-tiba akan tetapi terbentuk melalui perjuangan hidup yang sangat panjang. Karena kepribadian adalah dinamis maka dalam proses kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia pun berbeda-beda. Namun karena setiap manusia itu mempunyai tujuan maka dengan usaha yang sistematis dan terencana sesuai dengan tujuan akhir pendidikan peran guru sangat menentukan sekali.
e. Habit (kebiasaan diri), adalah suatu kegiatan yang terus menerus dilakukan yang tumbuh dari dalam pikiran. Pengembangan kebiasaan diri harus dilandasi dengan kesadaran bahwa usaha tersebut memutuhkan proses yang cukup panjang. Kebiasaan positif diantaranya adalah menyapa dengan ramah, memberikan rasa simpati, menyampaikan rasa penghargaan kepada kerabat, teman sejawat atau anak didik yang berprestasi dan lain-lain. Menilai diri sendiri sangatlah sulit. Kecenderungan orang adalah menilai sesuatu secara subjektif dan bila menyangkut diri sendiri orang akan mencari pembenaran atas sikap perbuatannya.
Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Bakat yang terdapat dalam diri seseorang merupakan suatu sifat yang relatif menetap. Dengan adanya pengembangan terhadap profesi guru diharapkan dapat membangkitkan minat anak terhadap belajar. Karena tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya.
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Dan motivasi adalah proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Sahertian: 29).
B. Profesi Guru
Profesi pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka yang menyatakan bahwa seseorang itu mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu. Mengenai istilah profesi, Everett Hughes yang dialih bahasakan oleh Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa istilah profesi merupakan simbol dari suatu pekerjaan dan selanjutnya menjadi pekerjaan itu sendiri.
Seorang guru dikatakan profesional bila guru memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal profesional mengandung makna yang lebih luas dari hanya berkualitas tinggi dalam hal teknis. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik. Melalui pengajaran guru membentuk konsep berpikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalam dari inti kemanusiaan subjek didik.
Guru berfungsi sebagai pemberi inspirasi. Guru membuat si terdidik dapat berbuat. Guru menolong agar subjek didik dapat menolong dirinya sendiri. Guru menumbuhkan prakarsa, motivasi agar subjek didik mengatualisasikan dirinya sendiri. Jadi guru yang ahli mampu menciptakan situasi belajar yang mengandung makna relasi interpersonal. Relasi interpersonal harus diciptakan sehingga subjek didik merasa “diorangkan”, subjek didik mempunyai jati dirinya.
Pengertian guru sebagaimana telah disinggung diatas menurut Zakiyah Darajat, adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru secara umum dapat memberikan sebuah tanggung jawab kepada anak didiknya melalui ilmu secara umum. Kemudian guru agama Islam lebih khusus kepada ilmu secara khusus, yaitu memberikan pengajaran secara formil kepada anak didiknya untuk mempelajari ilmu agama Islam dalam jangka waktu tertentu dengan kurikulum dan metode yang telah disiapkan.
Hakikat manusia adalah sebagai pribadi yang utuh, yang mampu menentukan diri sendiri atas tanggung jawab sendiri. Guru yang ahli harus dapat menyentuh inti kemanusiaan subjek didik melalui pelajaran yang diberikan. Ini berarti bahwa cara mengajar guru harus diubah dengan cara yang bersifat dialogis dalam arti yang ekstensial. Jadi jabatan guru di samping sebagai pengajar, pembimbing dan pelatih pula dipertegas sebagai pendidik.
Guru yang profesional di samping ahli dalam bidang mengajar dan mendidik, ia juga memiliki otonomi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan otonomi adalah suatu sikap yang profesional yang disebut mandiri. Ia telah memiliki otonomi atau kemandirian yang dalam mengemukakan apa yang harus dikatakan berdasarkan keahliannya. Pada awalnya ia belum punya kebebasan atau otonomi. Ia masih belajar sebagai magang. Melalui proses belajar dan perkembangan profesi maka pada suatu saat ia akan memiliki sikap mandiri.
Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan kesediaan untuk diminta pertanggung jawaban. Tanggung jawab yang mengandung makna multidimensional ini berarti bertanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap siswa, terhadap orang tua, lingkungan sekitarnya, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan akhirnya terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta (Indrakusuma: 34).
Guru sebagai sosial worker (pekerja sosial) sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun kebutuhan masyarakat akan guru belum seimbang dengan sikap sosial masyarakat terhadap profesi guru. Rendahnya pengakuan masyarakat terhadap guru menurut Nana Sudjana disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi guru, asalkan ia berpengetahuan, walaupun tidak mengerti didaktikmetodik.
b. Kekurangan tenaga guru di daerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai kewenangan profesional untuk menjadi guru.
c. Banyak tenaga guru sendiri yang belum menghargai profesinya sendiri, apabila berusaha mengembangkan profesi tersebut. Perasaan rendah diri karena menjadi guru masih menggelayut di hati mereka sehingga mereka melakukan penyalahgunaan profesi untuk kepuasaan dan kepentingan pribadi yang hanya akan menambah pudar wibawa guru dimata masyarakat.
Salah satu hal menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan yang tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan ini sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul. Mengapa demikian, karena guru adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didik yang memberi santapan jiwa dengan ilmu pengetahuan.
Penghargaan Islam terhadap orang yang berilmu tergambar dalam hadist seperti dikutip oleh Ahmad Tafsir, yaitu :
a. Tinta ulama lebih berharga dari pada darah para syuhada.
b. Orang yang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadah, orang yang berpuasa, melebihi kebaikan orang yang berperang di jalan Allah.
c. Apabila meninggal seorang alim maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh orang yang alim pula.
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh sebab itu guru seyogyanya memiliki perilaku dan kemampuan yang memadai untuk mengembangkan siswanya secara utuh. Untuk melaksanakan tugasnya secara baik sesuai dengan profesi yang dimilikinya guru perlu menguasai berbagai hal sebagai kompetensi yang dimilikinya.
Guru harus memahami dan menghayati para siswa yang dibinanya karena wujud siswa pada setiap saat tidak akan sama. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak serta nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia sangat mempengaruhi gambaran para lulusan suatu sekolah yang diharapkan. Oleh sebab itu gambaran perilaku guru yang diharapkan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keadaan itu sehingga dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru diharapkan mampu mengantisipasi perkembangan keadaaan dan tuntutan masyarakat pada masa yang akan datang.

Kamis, Juni 25, 2009

METODE PEMBIASAAN SEBAGAI UPAYA INTERNALISASI NILAI AJARAN ISLAM

Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nilai. Karena lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan, yang hendak ditanamkan atau ditumbuhkembangkan ke dalam diri peserta didik sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya (Muhaimin: 159).
Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya tersebut adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, karena kegiatan–kegiatan keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara baik kepada peserta didik.
1.Metode Pembiasaan
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam mencapai tujuan tertentu (tujuan pendidikan). Banyak para tokoh yang mengemukakan definisi pendidikan, tetapi pada intinya pendidikan mempunyai beberapa unsur utama, yaitu:
a.Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan, atau pertolongan yang dilakukan secara sadar
b.Ada pendidik, pembimbing atau penolong
c.Ada yang dididik atau si terdidik
d.Adanya dasar atau tujuan dalam bimbingan tersebut
Dari unsur pendidikan di atas dapat diketahui bahwa fungsi metode sangat penting dalam proses belajar mengajar. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi pendidikan yang akan disampaikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman, yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan.
Metode pembiasaan juga digunakan oleh Al-qur’an dalam memberikan materi pendidikan melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan–kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai sesuatu yang istimewa. Ia banyak sekali menghemat kekuatan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi dan aktivitas lainnya (Abudin Nata: 100-101).
Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan sholat, tatkala mereka berumur tujuh tahun. Hal tersebut berdasarkan hadits di bawah ini:
مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِاالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فىِالمَضَاجِعِ (رواه أبوداوود)
Artinya: “Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. ( HR. Abu Dawud.
Membiasakan anak shalat, lebih-lebih dilakukan secara berjamaah itu penting. Sebab dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak dijumpai orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu seseorang harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan (Ramayulis: 184).
2.Internalisasi Nilai
Nilai adalah suatu penetapan atau kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis aspirasi atau minat (Nur Syam: 133). Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai di mana peserta didik diharapkan dapat bertindak, bergerak dan berkreasi dengan nilai-nilai tersebut.
Nilai ajaran Islam merupakan sistem yang diwujudkan dalam amal perilaku para pemeluknya, termasuk dalam hal ini anak, peserta didik maupun masyarakat pada umumnya. Sistem nilai agama Islam adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi dan mempunyai keterpaduan yang bulat yang berorientasi pada nilai Islam. Jadi bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu
Pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan (sentimen ) agama saja, akan tetapi ia menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan (amaliah) sehari-hari, yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan dirinya sendiri (Darajat: 107).
Internalisasi adalah upaya menghayati dan mendalami nilai, agar nilai tersebut tertanam dalam diri setiap manusia. Karena pendidikan agama Islam berorientasi pada pendidikan nilai sehingga perlu adanya proses internalisasi tersebut. Jadi internalisasi merupakan ke arah pertumbuhan batiniah atau rohaniah peserta didik. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari sesuatu “nilai” yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai itu dijadikan suatu “ sistem nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku, dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini.
Menurut Muhaimin, tahap-tahap dalam internalisasi nilai adalah:
a.Tahap transformasi nilai, pada tahap ini guru sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal.
b.Tahap transaksi nilai, yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dan guru bersifat timbal balik. Dalam tahap ini tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik dan yang buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta memberikan respons yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai itu.
c.Tahap transinternalisasi, yakni bahwa tahap ini lebih dalam daripada sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat secara aktif.
Jadi, internalisasi nilai sangatlah penting dalam pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai sehingga nilai-nilai tersebut dapat tertanam pada diri peserta didik, dengan pengembangan yang mengarah pada internalisasi nilai-nilai ajaran Islam merupakan tahap pada manifestasi manusia religius. Sebab tantangan untuk arus globalisasi dan transformasi budaya bagi peserta didik dan bagi manusia pada umumnya adalah difungsikannya nilai-nilai moral agama.
Pada tahap-tahap internalisasi ini diupayakan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Thoha: 94):
- Menyimak, yakni pendidik memberi stimulus kepada peserta didik dan peserta didik menangkap stimulus yang diberikan.
- Responding, peserta didik mulai ditanamkan pengertian dan kecintaan terhadap tata nilai tertentu, sehingga memiliki latar belakang Teoritik tentang sistem nilai, mampu memberikan argumentasi rasional dan selanjutnya peserta didik dapat memiliki komitmen tinggi terhadap nilai tersebut.
- Organization, peserta didik mulai dilatih mengatur sistem kepribadiannya disesuaikan dengan nilai yang ada.
- Characterization, apabila kepribadian sudah diatur disesuaikan dengan sistem nilai tertentu dan dilaksanakan berturut –turut, maka akan terbentuk kepribadian yang bersifat satunya hati, kata dan perbuatan. Teknik internalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan agama, khususnya pendidikan yang berkaitan dengan masalah aqidah, ibadah, dan akhlakul karimah.
3.Metode Pembiasaan sebagai Upaya Internalisasi Nilai Ajaran Islam
Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.
Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulang-ulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter.
Karakter itu terbentuk dari luar. Karakter terbentuk dari asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan antar manusia. Kedua unsur inilah yang membentuk karakter (Anis Matta; 67-70).
Pendidikan agama Islam sebagai pendidikan nilai maka perlu adanya pembiasaan-pembiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter yang Islami. Nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi karakter merupakan perpaduan yang bagus (sinergis) dalam membentuk peserta didik (remaja) yang berkualitas, di mana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebajikan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta untuk melakukannya.
Pembentukan karakter seseorang (terutama peserta didik) bersifat tidak alamiyah, sehingga dapat berubah dan dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kaidah umum dalam pembentukan karakter seperti diutarakan oleh Anis Matta adalah sebagai berikut :
a.Kaidah kebertahapan, proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap.
b.Kaidah kesinambungan, anda harus tetap berlatih seberapapun kecilnya porsi latihan tersebut, nilainya bukan pada besar kecilnya, tetapi pada kesinambungannya.
c.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya.
d.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu.
e.Kaidah pembimbing, anda mungkin bisa melakukannya seorang diri, tetapi itu tidak akan sempurna. Jadi, anda membutuhkan kawan yang berfungsi sebagai guru.
Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan.

Rabu, Mei 20, 2009

Ahlussunnah Wal Jama'ah "ala Thariqah Nahdlatul Ulama' (NU)

Pada hakikatnya Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah adalah ajaran Islam yang sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat-Nya .
Ketika Rasulullah SAW menerangkan bahwa ummat-nya akan bergolong-golong menjadi 73 golongan, Beliau menegaskan bahwa yang benar dan akan selamat dari sekian banyak golongan itu adalah Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah. Atas pertanyaaan para sahabat, siapa golongan Assunnah wal Jamaah itu, Nabi pun menjawab dengan sabda-Nya:
مَاأنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
“Yang satu itu adalah orang yang berpegangan dengan I’tiqadku dan I’tiqad para sahabatku”
Pemaknaan tentang Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah memang terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama’. Tetapi muassies Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari memberikan gambaran bahwa Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah adalah I’tiqad Nabi dan sahabat-Nya yang termaktub dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah Rasul secara terpencar-pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur. Dalam masalah aqidah faham ini menganut rumusan dua orang ulama Ushuluddin, yakni Syaikh Abu Hasan Al Asy’ary dan Syaikh Abu Mansur Al-Maturidhi (wafat tahun 333 H. di desa Maturidi Samarkan Asia Tengah) dirumuskan dan disusun menjadi satu.
Dalam menjalankan ritual agama (syari’at) faham ini mengikuti salah satu dari madzhab empat, yakni: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I, Imam Hanbali. Sedang untuk masalah tasawwuf mengikuti Imam Abu Hamid Al-Ghozali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.
Adapun metode berfikir yang dijadikan dasar pijakan dalam penetapan hukum Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah itu dibagi menjadi tiga katagori utama: kebijaksanaan, keluwesan dan moderatisme.
1. Kebijaksanaan
Istilah kebijaksanaan ini digunakan dalam pengertian yang netral, yaitu pengambilan tindakan yang kondusif bagi upaya memperoleh manfaat atau menghindari kerugian.
Setidaknya terdapat tiga kaidah fiqih yang biasa dikutip sehubungan dengan upaya memperoleh manfaat atau menghindari kerugian:
a. Dar’al-mafasid muqoddam’ala jalbi al-masalih, artinya menghindari bahaya diutamakan daripada melaksanakan kebaikan.
b. Akhoffud-daraini, maksudnya apabila dihadapkan pada dua hal bahaya atau lebih, maka pilih salah satu yang resikonya paling kecil.
c. Bahaya tidak bisa dihilangkan dengan bahaya lain.
Anjuran-anjuran untuk menghindari bahaya seringkali dikaitkan dengan dua hal yang lain yang lebih luas, yaitu maslahat dan amar ma’ruf nahi munkar. Maslahat (secara harfiah berarti kebaikan atau manfaat) merupakan suatu konsep hukum yang berkaitan dengan kepentingan atau kesejahteraan masyarakat. Menurut pandangan kaum tradisionalis maslahah berarti mencari kebaikan atau manfaat dan mencegah mafsadah.
Para fuqaha’ (ahli jurisprudensi Islam), memetakan maqashidu al-syari’ah ke dalam lima hal yang bersifat universal – yaitu, jaminan atas kebebasan beragama (hifdz al-dien), jaminan atas kehidupan (hifdz al-nafs), jaminan atas properti dan keberlangsungan keturunan (hifdz Al-maal wa al-nasl), jaminan atas kesempatan berekspresi dan berkreasi (hifdz al-aql), dan jaminan atas profesi (hifdz al-‘irdl) – dan ini disebut maslahat.
Melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tetapi para ahli hukum berbeda pendapat dalam penerapannya. Sebagian orang berpendapat bahwa semua cara, termasuk kekerasan dan memaksa, sah untuk dilakukan. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa cara-cara persuasif seperti membujuk dan memberi contoh pribadi sudah cukup. Pendapat yang terakhir ini lebih disukai oleh golongan Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah.
Di samping kewajiban pribadi untuk memberikan saran kepada orang lain, NU juga berpendirian bahwa amar ma’ruf nahi munkar dapat dilaksanakan melalui partisipasi dalam semua aspek dan bidang kegiatan organisasi termasuk politik-pemerintahan (legislatif, eksekutif, yudikatif).
2. Keluwesan
Ciri kedua dari pemikiran Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah adalah sikap luwes. Keluwesan dalam pengambilan keputusan itu merupakan sebagian dari wujud penerapan kaidah fikih mengenai upaya meminimalkan resiko. Dalam hal ini paling tidak ada dua kaidah fikih yang mengantarkan pada sikap Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah:
a. Dlarurat menghalalkan perkara yang semula diharamkan .
b. Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku ba’duhu, apa yang tidak tercapai 100%, jangan ditinggal yang sebagian.
Sikap luwes ini tercermin dari apa yang dinasehatkan oleh nabi Muhammad SAW bahwa imam shalat yang bijaksana adalah imam yang diantara jama’ahnya terdapat orang tua dan golongan lemah, tidak boleh membebani mereka dengan jumlah rakaat yang banyak dan bacaan surat yang panjang.
3. Moderatisme
Moderatisme adalah suatu sikap untuk menghindarkan dari tindakan ekstrim dan sikap hati-hati dalam bertindak dan menyatakan pendapat. Perilaku moderat (kecenderungan untuk memilih pendekatan jalan tengah), hal ini banyak ditemukan dalam pemikiran Islam maupun ciri ideal budaya jawa.
Ahmad Siddiq menggambarkan sikap ini dengan menggunakan istilah tawassuth yang didefinisikan sebagai “jalan tengah di antara dua sikap yang ekstrim” , hal ini didasari firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah 143

Artinya, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah: 143) .
Prinsip dan karakter Tawassuth itu termanifestasikan pada bidang ajaran agama Islam. Sebagai pembuktian prinsip tawassuth itu adalah:
1. Bidang Aqidah:
a.Menjaga keseimbangan dalam penggunaan dalil Aqli (argumentasi) dengan Naqli (nash Al-Qur’an dan Sunnah), dengan menempatkan Aqli dibawah Naqli.
b.Memurnikan aqidah dari campuran ideologi luar Islam.
c.Tidak mudah memvonis musyrik, kufur dan sebagainya kepada golongan yang belum bisa memurnikan Aqidah.
2. Bidang syari’ah:
a.Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan menggunakan methode dan sistem yang bisa dipertanggung jawabkan dan melalui jalur semestinya.
b.Bila menemukan masalah yang sudah jelas ada dalil sharih dan qoth’I tidak boleh ada pendapat akal.
c.Bila dihadapkan pada masalah Dhanniyah (kurang jelas dan tidak pasti), maka dapat ditoleransi adanya perbedaan pandapat selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.
3. Bidang Tashawwuf:
a.Menganjurkan untuk memperdalam penghayatan ajaran Islam, dengan Riyadhah dan mujahadah menurut hukum dan ajaran Islam.
b.Mencegah sikap berlebih-lebihan yang bisa menjerumuskan orang pada penyelewengan aqidah dan syari’ah.
c.Berpedoman pada akhlak yang luhur dengan memposisikan diri diantar dua sikap yang mengujung (tatharuf, ekstrimis).
Wujud dari sikap tawassuth dalam Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah (NU) dalam memandang tradisi (budaya) dan modernisme adalah menerima kebudayaan lokal atau modernisme sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat dan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam. Sikap demikian sesuai dengan kaidah fikih:
اَلْمُحَافَظَةُعلَىالْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالأحْذ بِالجَدِ يْدِ الأصْلَحْ
Artinya,“menjaga dan meneruskan tradisi lama yang baik dan menerima tradisi baru (modernitas) yang lebih baik”.
Hal inilah yang ditunjukkan oleh gerakan dakwah yang dilakukan oleh Walisongo dalam memasukkan unsur-unsur Islam ke dalam budaya lokal. Walisongo menyebarkab Islam tidak dengan pendekatan halal-haram, melainkan dengan memberi spirit di setiap perayaan adat yang laksanakan oleh masyarakat. Sehingga Islam bercampur tradisi dan adat-istiadat masyarakat secara subtansi. Kondisi ini yang kemudian memudahkan penyebaran Islam ke segala dimensi kehidupan masyarakat.
Kaum Islam modernis mengangap bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia tidak bisa memberikan kontribusi positif bagi terwujudnya formalisasi syariat Islam di Indonesia. Dalam masalah ini NU memandang bahwa konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila sudah final dan ini harus dipertahankan eksistensinya. Pemerintah sebagai penguasa negara yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan wajib ditaati selama tidak menyeleweng dan atau memerintah kearah yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah.
Sikap tawassuth ini mengandung tiga unsur, yaitu ; tawazzun, I’tidal dan tasammuh. At-Tawazzun berarti sikap seimbang, tidak berat sebelah, tidak melebihkan salah satu sisi mengurangi sisi yang lain . Sikap demikian ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an Surat Al-Hadiid ayat 25:

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”.
Al-I’tidal, yaitu sikap adil, tegak lurus, tidak condong ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian. Sikap ini diambil dari firman Allah surat Al-Maidah ayat 9 :

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sedangkan tasammuh (toleransi) adalah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam (plural). Keberagaman iu menuntut sikap untuk menerima perbedaan pendapat dan menghargainya secara toleran. Toleransi yang tetap diimbangi dengan keteguhan pendirian dan sikap.
Sikap tasammuh ini hendaklah terwujudkan dalam pergaulan (mu’asyarah) antar golongan, hal ini dapat dilakukan dengan:
a.Mengakui karakter tabiat manusia yang senang berkelompok dengan unsur pengikat masing-masing.
b.Pergaulan antar golongan didasarkan atas saling menghormati dan menghargai.
c.Permusuhan hanya boleh dilakukan terhadap golongan yang nyata-nyata memusuhi Islam dan ummat Islam.
Sikap moderat yang diteladankan ulama Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah itu tercermin oleh para Walisongo dalam upaya penyebaran Islam di Nusantara. Sepanjang dakwah Walisongo, ditemukan sebuah upaya untuk mencari jalan tengah antara ajaran Islam seperti tertera dalam nash dengan kondisi riil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sikap ini menghadirkan wajah Islam yang damai dan toleran, bukan Islam yang garang dan menghancurkan (destruktif).

Kamis, April 30, 2009

Peranan Wanita dalam Pembinaan Aqidah Islam

PENGENALAN
Aqidah, iman atau pegangan atau kepercayaan atau keyakinan terhadap Allah Subhanahuwataala adalah asas kepada agama Islam. Ia ibarat tapak kepada sebuah rumah. Di atas tapak inilah didirikan tiang, bumbung dan segala yang menjadikan rumah tersebut, begitulah aqidah, amalan yang baik tidak dapat diterima tanpa aqidah,malah akhlak yang mulia tidak dapat di bentuk tanpa aqidah. Ini berarti aqidah merupakan keyakinan dan kepercayaan yang tersimpul kuat dihati sanubari tanpa ragu dan syak terhadap perkara yang wajib diimani seperti Illahiyyat (ketuhanan), Nubuwwat ( kenabian) dan Summiyat (ghaib) seperti wujudnya syurga, neraka dan makhluk-makhluk ghaib yang lain, serta pelaksanaan rukun-rukun Islam dan juga ihsan. Jika timbul ragu-ragu dalam hati, aqidah atau iman atau kepercayaan boleh dipersoalkan. Hati pula adalah sesuatu yang berbentuk maknawi atau spiritual yang terletak dalam lubuk ketulan hati yang bersifat meterial dan dalam tubuh manusia. Di hati inilah letaknya aqidah yang bersifat rabbani yang mempunyai hubungan yang istimewa dengan Allah. Aqidah inilah pengawal kepada setiap reaksi manusia.
Hubungan hati dengan iman dan keyakinan terbina dengan perlafazan dengan lidah melalui dua kalimah sahadah, meyakinkannya dengan hati serta membuktikannya dengan amalan anggota badan kesemua ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Keyakinan atau aqidah ini perlu dipelihara dan dididik dengan mengetahui bukan sahaja perkara yang mengukuhkannya malah perkara yang boleh merosakkannya sama ada melalui lisan, perbuatan dan hati.
PROSES PENDIDIKAN AQIDAH
Proses penanaman aqidah ini adalah merupakan proses pendidikan sepanjang hayat. Ia bermula ketika manusia berada di alam roh lagi, dimana manusia telah pun berikrar dan bersaksi kepada ke Esaan Allah sebagai al-Rabb dan Al-Illahi, malah itulah fitrah manusia. Manusia kemudian berada dalam kandungan ibu lalu roh ditiupkan oleh malaikat, manusia kemudiannya lupa dengan ikrarnya. Maka proses pendidikan aqidah perlu bermula. Kajian saintifik menunjukkan terdapat hubungan antara emosi ibu semasa mengandung dengan personaliti anak yang dilahirkan, ibu yang mengalami kemurungan emosi akan melahirkan anak yang sering menangis dan sedih. Kajian juga menunjukkan ibu yang minum arak atau mengambil dadah semasa mengandung melahirkan anak yang menunjukkan simptom ketagihan setelah dilahirkan oleh ibunya ke dunia. Kedua finomena ini menjelaskan kepada kita bahwa kedudukan bayi dalam kandungan ibu, bukanlah pasif malah ia mula menyerap alam sekelilingnya melalui perbuatan, perasaan dan gerak hati ibunya. Implikasi kepada situasi ini ialah, aqidah sebagai asas utama kehidupan atau hayat perlu dididik semasa dalam kandungan ibu lagi. Walaupun kita juga perlu mempercayai bahawa aqidah adalah anugerah Allah kepada manusia, tetapi ia juga dimasa yang sama perlu dididik dengan faktor yang membina keimanan dan memahami faktor yang membawa kekufuran. Oleh itu proses pendidikan, penyemaian, pembinaan dan pengukuhan iman atau aqidah ini mesti diusahakan berpandukan al Quran dan Al Hadith.
Oleh kerana proses pembinaan aqidah atau keyakinan terhadap Allah adalah merupakan satu proses pendidikan, memahami fitrah manusia adalah penting dan memahami proses manusia belajar juga adalah penting. Memahami bahawa fitrahnya manusia itu adalah satu ciptaan Allah yang mulia dengan penuh potensi untuk menjalankan kewajipan mereka sebagai kalifah Allah dibumi ini. Disamping itu kita juga memahami manusia berkeupayaan untuk lupa dan perlu dididik. Didikan itu bukan sahaja membentuk tingkah laku yang baik, akal yang cerdas, emosi yang matang tetapi mendidik hati yang yakin kepada kekuasaan Allah. Keyakinan dan ketaatan ini pula mesti dapat dimenifestasikan melalui amalan secara ikhlas dengan perilaku menurut ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mendidik hati memerlukan pendidik yang berilmu dan berkemahiran dan berkeyakinan disamping mengetahui dan mahir dengan kaedah didikan yang pelbagai dan kreatif, kerana hati adalah tunjang kepada keimanan atau aqidah itu. Jadi siapakah pendidik penting kepada hati atau keyakinan atau aqidah ini, ia pastilah mereka yang signifikan dalam kehidupan atau hayat manusia itu. Ia adalah alam manusia tersebut. Alam termasuklah ibu, bapa, atau ganti ibu atau bapa, adik beradik, kaum keluarga, kawan dan rakan, guru-guru, suami isteri. Senarai ini tidak berkesudahan apabila alam individu makin berkembang, hanya kepentingan berbeza dari satu jangka hayat kesatu jangka hayat yang lain. Walaubagaimana pun peranan yang paling utama ialah peranan kedua ibu dan bapa. Mereka kedualah yang paling awal dan signifikan mewarnakan jenis keyakinan dan keimanan kepada kehidupan anak anak.

PERANAN WANITA DALAM PENDIDIKAN AQIDAH
Allah menjadikan manusia berpasang-pasang lelaki dan perempuan untuk saling bantu membantu dan saling melengkapi untuk merelisasikan matlamat hidup sebagai hamba yang beriman. Dengan itu peranan golongan lelaki dan perempuan adalah sama pentingnya dalam mendididik generasi dalam segenap bidang termasuklah pendidikan aqidah atau keyakinan dan keimanan terhadap Allah. Adalah tidak wajar sekiranya pembentukan aqidah ini dibiarkan tumbuh sendiri. Manusia menggunakan berjuta-juta uang untuk mendidik beberapa aspek pengetahuan seperti mempelajari ilmu Sains dan teknologi dan belajar kemahiran penting dalam kehidupan, makabegitu jugalah usaha membina aqidah, tidak boleh diandaikan akidah akan mantap dan matang dengan sendirinya.
Dalam usaha mendidik aqidah Islamiyah ini peranan wanita dan lelaki adalah sama imbang malah peranan wanita tidak pernah dipertikaikan. Apa yang penting ialah usaha yang terancang dan bermatlamat diperlukan bagi memastikan usaha mendidik ini mencapai matlamatnya. Wanita khususnya perlu mengetahui kaedah yang telah digariskan oleh Islam dalam menyemaikan roh aqidah Islamiah ini. Contah nama-nama wanita Islam yang berjaya menanamkan aqidah kepada warisan mereka ialah Umm Salim Al ramisa’ ibu kepada Anas bin malik, Hindun bt Utbah ibu kepada Mu’awiyah, Safiyyah ibu kepada Zubair, Asma bt Abu bakar ibu kepada Abdullah Bin Zubair. Nama-nama besar ini adalah membuktikan betapa besar peranan wanita dalam menanamkan aqidah yang kukuh sehingga membolehkan lahirnya pemimpin yang besar didalam Islam.
Kaedah Pembentukan aqidah
Menuntut Ilmu meningkatkan aqidah
1. Pembinaan aqidah atau apa juga jenis pendidikan perlulah bermula dengan melihat persediaan pendidiknya ia itu persediaan diri wanita itu sendiri yang bakal menjadi isteri dan ibu kepada anak-anak. Mereka ibarat sebuah institusi pendidikan yang bakal mengeluarkan tokoh-tokoh penting. Dalam menyemaikan benih aqidah , sesaorang wanita sama ada telah berkahwin atau tidak, perlu dahulu beriman dengan Allah dan mempunyai keyakinan yang kukuh atau aqidah yang mantap mengamalkan ajaran Rasullah SAW. Tuntutan menuntut ilmu bagi meningkatkan iman dan peningkatan aqidah adalah wajib sebagai panduan dalam menjalani kehidupan seterusnya. Kursus persediaan menghadapi perkahwinan yang kompresensif adalah perlu bagi membantu pasangan menyediakan diri dengan perubahan gaya hidup yang bakal dihadapi. Begitu juga dengan persediaan untuk membina rumah tangga ia itu apabila adanya kehadiran anak. Persediaan modul perkahwinan dan keibubapaan yang teliti dengan pelaksanaan yang teratur akan memberikan kesan yang diharap.
2. Memilih lelaki yang beriman
Perkahwinan adalah sunnah nabi. Ia merupakan institusi melahirkan generasi manusia dan memelihara kehormatan dan keturunan. Dalam usaha untuk memelihara aqidah, wanita boleh memilih jodoh dan bakal suami yang berimandan bertakwa. Ini adalah kerana suami adalah bakal menjadi pemimpin kepada keluarga yang bakal dibina. Lelaki yang beriman akan mencorakkan kehidupan wanita dan keluarga. Fitrahnya dalam sebuah keluarga, lelaki adalah pemimpin yang memimpin keluarga. Lelaki yang memelihara aqidah dan keimanan, akan menjadikan nilai yang mulia sebagai panduan hidupnya dan keluarganya.
Disamping itu bakal warisan yang dilahirkan juga berkait rapat dengan bapa dari kedua ibu dan bapa. Oleh itu pemilihan bakal suami yang baik akhlak dan beriman dapat membantu dalam mencorakkan kehidupan dan iman keluarga yang bakal dibina.
3. Pendidikan semasa hamil
Perkaitan antara apa yang berlaku semasa hamil dengan bayi di dalam kandungan, banyak sekali dikaji oleh pakar psikologi dan perubatan. Janin atau bayi yang dikandung sentiasa sensitif dengan apa yang berlaku dengan ibu yang mengandungkannya.Pemakanan ibu contohnya memberi kesan kepada kesihatan dan pembesaran anak. Pemakanan bukan sahaja baik tetapi halal perlu diberikan perhatian, begitu juga makanan yang halal perlu juga baik dan bersih. Makanan yang haram akan mendinding hati anak dari menerima hidayah dan didikan setelah ia dilahirkan.
Kesehatan ibu juga memberi kesan kepada kesehatan anak. Ibu yang mengandung terkena penyakit berbahaya semasa mengandung seperti Rubella, deman campak, siplis mungkin memberi kesan kepada kesihatan fizikal dan mental anak. Keadaan kesehatan emosi ibu juga, didapati ada kaitan dengan emosi anak yang bakal dilahirkan. Ibu yang gembira dan merasa syukur dan bahagia akan melahirkan anak yang gembira dan mudah di pelihara. Begitu juga dengan aqidah, ibu perlu memperbanyakkan ibadat dan menjauhi maksiat semaga mengandung. Ibu digalakkan menghadiri kuliah agama, memahami aqidah, membaca cerita orang yang shaleh yang mempertahan aqidah dan berakhlak dengan sifat terpuji yang berkaitan dengan aqidah seperti ikhlas, sabar, tawakkal, muraqabah, muhasabah dan muhabbah. Tingkahlaku ini boleh membentuk pemahaman ibu dan anak yang bakal dilahirkan terhadap aqidah dengan mendalam.
4. Pendidikan Awal kelahiran
Bagi menyemai benih aqidah, waktu kelahiran adalah waktu yang penting bagi pemua untuk mengingati janji manusia di alam roh untuk mentaati Allah. Dengan itu peranan ibu bapa adalah melantunkan adzan ditelinga kanan dan iqamah ditelinga kiri seperti mana yang disunatkan oleh Islam. Pendengaran adalah deria pertama yang berfungsi semasa bayi dilahirkan dan memainkan peranan utama dalam menyalurkan maklumat ke dalam hati bayi tersebut. Menurut Abdullah Nasih Ulwan, hikmah azan dan iqamah ialah sebagai permulaan dakwah kepada Allah dan Agama Islam, sebelum syaitan datang membisikkan kata-kata kekufuran. Hati dikala itu ibarat satu bekas yang masih kosong dan bersih dan perlu diisi dengan kalimah-kalimah suci.
Disamping itu ibu juga perlu membantu dalam menjalankan amalan yang disuruh atau sunat seperti memberikan nama yang baik maknanya kepada anak. Nama adalah sangat penting kepada sesaorang individu. Nama yang baik akan membantu dalam membina konsep sendiri yang baik. Konsep sendiri yang baik akan membina keyakinan diri dan membentuk personaliti yang baik kepada individu. Di dalam Islam nama yang baik yang dipanggil berkali-kali akan menjadi doa yang baik kepada anak. Oleh itu pemilihan nama anak haruslah teliti, kerana ia akan menjadi identitas anak itu sepanjang hayatnya. Anak yang dilahirkan juga sunat di tahnikkan, ia itu perbuatan memasukan sedikit manisan (tamar) kemulut bayi sebelum ia munyusu, memasukkan kurma yang dihancurkan ini, membolehkan mulut bayi bergerak dan membantu dalam menghisap susu ibunya. Orang yang mentahnikkan digalakkan dipilih dari orang berilmu dan beriman agar mendapat berkat darinya. Anak juga digalakkan supaya di cukur rambutnya agar dapat membantu dalam menyehatkan badan dan pancaindera anak seperti kekuatan melihat, mendengar dan menyuburkan pertumbuhan rambut yang baru.
Sebagai tanda kesyukuran amalan akikah juga dilakukan dihari ketujuh kelahiran anak. Ia juga petanda amalan pertama bagi anak tersebut bertaqarrabu kepada Allah dan kesyukuran dan pohon keselamatan. Manakala amalan berkhatan pula adalah satu lambang kebersihan dan kesehatan diri bagi anak-anak. Amalan–amalan di atas mempunyai pengaruh kepada pembentukan aqidah dan sahsiah anak-anak. Ia membedakan antara pendidikan awal anak-anak Islam dan bukan Islam.
5. Lima tahun pertama
Lima tahun pertama kehidupan mengikut pakar psikologi Erick Erickson (1976) dan pakar-pakar perubatan, adalah merupakan satu masa yang sangat penting dan banyak sekali menghadapi perubahan dan pertumbuhan. Secara fizikalnya kita melihat anak akan menghadapi perubahan fizikal dari terlentang hingga berjalan dan berlari, dari hanya menangis kini boleh bercakap. Pakar psikologi berpendapat, di lima tahun pertama ini terbentuknya personaliti anak, malah ditahap umur ini peranan ibu dalam membentuk aqidah perlu sekali diaktifkan. Anak–anak diumur ini belajar dengan menggunakan seluruh pancaindera mereka. Mereka sensitif alam . Apa yang dilihat dan didengar akan di
contohi (modeling), tidak ada pelakuan ibu bapa yang terlepas dari dicontohi oleh anak. Kemahiran membelai dan komunikasi ibu amat penting. Suara ibu, eksperessi muka dan sentuhan ibu memberi kesan kepada pembentukan sahsiah anak. Kajian menunjukkan ibu yang tidak pernah merasa kasih sayang atau disayangi semasa kanak-kanak, tidak tahu bagaimana untuk menyatakan dan memberikan kasih sayang kepada orang lain. Begitulah sensitifnya jangka masa ini. Keluarga yang menjalankan ibadah seperti Shalat, membaca qur’an, menyuapkan makanan dengan membacakan bismillah permulaannya, bersalaman dan berkasih sayang akan dicontohi oleh anak. Ibu sebagai pendamping utama anak perlu mengisi fitrah anak ini dengan berbagai kaedah pendidikan. Anak-anak yang dinyanyikan dengan lagu memuji Allah dan Rasul adalah merupakan tarbiah yang baik sebagai permulaan menyemai benih iman ke dalam hati anak-anak. Anak-anak sangat suka mendengar suara ibu dan merasa sangat selamat apabila didodoikan oleh ibu. Malah kaedah nyanyian adalah kaedah yang paling berkesan dalam menyampaikan maklumat penting , kerana fitrah manusia berjiwa halus dan seni. Suara ibu adalah satu nikmat bagi anak-anak. Ciptaan nyanyian anak-anak yang berunsur menamankan aqidah dan mengenali penciptanya mesti diusahakan bagi membantu ibu ibu dalam menjalankan tanggungjawab membina aqidah ini. Disamping itu kegemaran anak-anak melihat warna dan gambar yang cantik serta berwarna warni juga perlu digunakan dengan menggalakan ciptaan cerita-cerita mudah yang boleh membantu ibu membacakan kepada anak kecil dilingkungan dua tahun semasa mereka lapang dan akan tidur. Cerita–cerita yang berkaitan dengan kekayaan dan kehebatan Allah dan Rasulnya akan memudahkan anak-anak nantinya memahami penciptanya. Ciptaan buku yang cantik berwarna dan cerita yang mudah dan menarik akan membantu usaha ibu dalam membina aqidah Islamiyah anak-anak.
Di zaman moden kini kita mendapati agak sukar juga ibu bapa untuk memilih bahan tontonan yang sesuai untuk membina jiwa anak-anak. Bahan-bahan yang diimpor kebayakannya berunsur ganas malah terdapat juga yang mencabar proses pembinaan aqidah Islamiyah. Misalnya kartun Doremon, ia merupakan kegemaran kanak-kanak kerana karikatur yang terlibat adalah anak-anak dan memperlihatkan adanya kuasa menjadikan di tangan Doremon. Walaupun ia remeh ia juga mudah difahami oleh anak-anak bahwa kuasa menukar dan menjadikan itu didalam poket Doremon. Ramai juga anak-anak kita yang taksub dan meminati kartun ini. Soalnya adakah mereka percaya bahwa kuasa menjadikan dan menukar di dalam poket Doremon? Oleh itu masyarakat Islam harus melihat kuasa yang ada kepada kartun ini. Bagaimana kartun ini boleh membantu usaha ibu-ibu membuat pilihan dalam membentuk aqidah anak-anak agar proses penyemaian aqidah diperingkat anak-anak
berjalan mudah dan subur.
Dimasa ini boleh dikatakan umat Islam tidak mempunyai pilihan untuk mengunakan medium ICT dalam membina aqidah Islamiyah. Hasil bahan media massa masih kurang membantu, memandangkan kurangnya usaha diambil untuk menggunakan media massa sebagai alat mendidik aqidah Islamiyah ini. Hasil seni dalam rancangan tv seperti kartun yang dapat meningkatkan aqidah Islam anak-anak amat kurang, sedangkan hasil kartun yang lain melimpahi ruang hidup kanak-kanak Islam, ini adalah satu cabaran yang benar dan perlu diuruskan oleh umat Islam sendiri. Pembelajaran secara meniru atau mencontohi (modeling) perlu juga ditambah dengan cara mengajar diulang (latih tubi). Pengajaran membaca al qur’an boleh dimulakan apabila anak berkebolehan untuk bertutur dengan sempurna. Nyanyian menyebut nama-nama Allah adalah juga boleh dijadikan nyanyian bersama antara ibu dan anak. Hubungan lemah lembut dan kasih sayang antara ibu dan anak membentuk jiwa anak yang pengasih dan penuh tawadduk kepada ibu dan penciptanya.
6. Menjelang aqil baligh
Menjelang aqil baligh ia itu ketika jangka umur tujuh ke sepuluh tahun, ibu perlu bertindak seperti seorang guru yang tegas dan penyayang. Anak perlu diajar asas ibadat seperti bersuci, cara mendirikan solat dengan sempurna, tatacara kehidupan Islam yang sebenarnya. Tunjuk ajar dan pujukan diperlukan untuk membantu anak mempraktikkan peranan mereka. Seperti yang sering dipraktik oleh sesetengah keluarga dalam melatih berpuasa, ibu boleh melatih anak berpuasa dengan memberikan ganjaran seperti menyedikan makanan yang disukai, mendapat sedikit wang poket untuk berhari raya dll. Bagi anak yang tidak berpuasa mungkin tidak dibenarkan makan sekali dengan mereka yang berpuasa, ini merupakan dendaan yang halus dan baik. Amalan solat berjemaah antara keluarga diumur ini bukan sahaja membantu dalam membolehkan ibadat disempurna dengan baik dan betul tetapi juga meningkatkan disiplin diri anak-anak.
Apabila anak semakin matang, pengukuhan disiplin atau peraturan dalam kehidupan mestilah jelas dan tidak bercanggah. Ibu dan ayah mesti sama bersetuju dengan disiplin atau peraturan dalam kehidupan rumah tangga. Percanggahan peraturan atau disiplin rumah tangga akan membawa kecelaruan kepada anak-anak. Disiplin termasuklah hubungan dengan ahli keluarga, tingkahlaku dan akhlak dan aqidah. Disamping memperkukuhkan disiplin diri, bimbingan yang baik juga diperlukan dalam membantu anak membina kemahiran dalam membuat keputusan. Diumur ini anak mula menggunakan pemikiran dan emosi mereka dalam membuat keputusan. Antara keputusan yang penting mungkin berkaitan dengan pemilihan rakan sebaya. Memilih rakan sebaya sering menjadi isu di awal remaja ini. Dipilih atau tidak dipilih juga menjadi isu penting. Anak perlu dibimbing memilih rakan yang baik, rakan yang baik berkemungkinan membantu dalam pembinaan akhlak yang baik juga. Kemahiran ibu dalam membimbing membina kemahiran ini adalah penting. Kebolehan ibu berkumunikasi dengan baik, bercakap tanpa perlu marah, berbincang tanpa memperkecilkan pandangan anak-anak adalah penting. Anak perlu merasakan ia diterima,
dihormati dan dikasihi, perasaan yang sama akan timbul dihati anak kepada ibubapa mereka.
7. Dari aqil baligh ( remaja) ke dewasa
Ahli psikologi melabelkan zaman ini sebagai zaman pancaroba. Selain dari zaman kanak-kanak zaman ini adalah juga dizaman manusia menerima perubahan. Perubahan fizikal dan akal dan emosi. Di zaman ini juga dunia individu mula menjadi luas dan terbuka. Ibubapa mula kurang pengaruhnya jika tidak dikawal, rakan–rakan menjadi penting. Ini berarti ibu dan bapa juga perlu memainkan peranan lebih sebagai rekan, dimana bersikap lebih menerima dan terbuka agar memberi ruang kepada anak untuk bercakap dan berbincang dengan selesa dan mudah dengan kedua ibubapa. Sekiranya hubungan ibubapa anak tidak berlaku, rekan atan menjadi pilihan utama. Oleh itu ibu terutamanya perlu
memahami apa yang sedang dialami oleh anak di zaman ini.
Perbincangan secara dewasa dari ibu kepada anak dalam apa jua perkara sangat penting. Ibu perlu berkemahiran melayan dan mendengar serta memberikan pandangan dengan baik dan kasih sayang. Godaan dan cobaan yang dihadapi oleh anak akan menyentuh perasaan, pemikiran dan tingkahlaku anak-anak. Anak yang tidak dapat menjalin hubungan yang baik dengan ibu dan bapa selalu kecundang dan menagalami kesukaran dalam mengharungi zaman ini.
Pengukuhan aqidah anak-anak harus terus diusahakan dimana banyak persoalan dan pemasalahan yang bakal dihadapi anak-anak mungkin akan turut mencabar aqidah mereka di tahap umur ini. Pengalaman kekecewaan dan dukacita sering membawa kepada persoalan seperti mengapa saya, mempersoalkan keadilan dll. Ini memerlukan pegangan aqidah yang kukuh. Peranan ibu dalam meyakinkan anak-anak dengan memberikan masa untuk mendengar , memberi bimbingan dan nasihat serta meyakinkan adalah penting. Anak akan lebih yakin berkongsi dengan ibu berbanding dengan orang lain sekiranya ibu berkebolehan ia itu mempunyai ilmu, berkemahiran dalam komunikasi, memahami, sabar, memberikan masa dan menerima tanpa syarat kepada apapun pemasalahan anak-anak.
Sekiranya anak telah menguasai asas-asas aqidah, ditambah pula dengan bahan-bahan bacaan yang disediakan dirumah berkemungkinan besar anak-anak akan mudah menghadapi hidup dan membuat keputusan dengan baik berpandukan aqidah yang betul yang berasaskan quraan dan sunnah. Tanggung jawab ibu sebenarnya tidak pernah berakhir. Walaupun anak kini dewasa mereka sentiasa akan menghadapi dunia yang penuh cobaan dan mengancam aqidah mereka. Kehadiran seorang ibu akan memberikan keselesaan sebagai tempat untuk pulang dan mengadu. Keutuhan aqidah juga akan membantu dalam membina sikap menghormati dan mentaati seorang anak kepada ibu bapanya.
PENUTUP
Aqidah yang kukuh pembinaan dan pegangannya kepada kekuasaan Allah adalah merupakan rujukan utama manusia dalam menguruskan kehidupannya. Pendidikan hati yang merupakan tapak aqidah jika dilaksanakan dengan teliti adalah merupakan kawalan kepada tingkahlaku manusia. Ikatan hati yang teguh dengan Allah sebagai penciptanya, membuatkan manusia tunduk dan sedar dengan kedudukannya sebagai hamba. Ini juga menyebabkan individu merasa takut untuk melakukan kezaliman sesama sendiri, membinasakan alam dan diri sendiri ( hedonism). Ini adalah kerana manusia sangat menyedari Allah sentisa melihat dan mengetahui segala gerak hati dan tingkahlakunya. Kejayaan ibu bapa membina aqidah juga dapat mengurangi penyakit sosial seperti penginayaan, rasuah, rompakan, dengki hati dll. yang merupakan larangan dan cabaran kepada aqidah Islamiyah. Dengan pembinaan aqidah yang kukuh juga kita dapat melihat masyarakat yang bekerja keras dan redha. Ekonomi meningkat bagi menjana harta dan zakat. Dengan arti kata lain kemakmuran sesebuah negara itu pasti terjamin dengan adanya modal insan yang bertaqwa dan aqidah yang kukuh yang datangnya dari sebuah rumah tangga yang mulia aqidah dan pegangnya.
Disini bolehlah disimpulkan bahawa pengukuhan aqidah dalam diri manusia boleh diurus dan dirancang melalui proses pendidikan. Pengurusan penyemaian aqidah adalah sangat relevan bagi tujuan membangunkan modal insan disesebuah keluarga dan negara. Dengan kaedah yang betul dan usaha yang bersungguh-sungguh dari setiap golongan dan juga dengan didikan khusus yang disediakan untuk kaum wanita, usaha pemantapan aqidah ini pasti dapat direalisasikan.

11
RUJUKAN
Abdullah Nasih Ulwan. Tarbiyyah Al- Awlad Fi Al – Islam. Jilid 1 Bayrut : Dar
Ihya’al- Turath al- Arabi. Ms 69.
Bathia , K.K. ( 2001) Foundation Of Teaching and Learning Process. Tendon
Publication. Ludhiana City.
Dewan Bahasa Pustaka ( 1996) Kamus Dewan , Kuala Lumpur, Edisi Ketiga.
Duvall. E.M.( 1977) Marriage and Family Development. J.B. Lippincott Co.
Philidelphia , New York.
Erick-Erickson (1976) Developmental Psychology , Mc Graw Hill New York.
Muhammad Al- Ghazali ( 2002) Akhlak Seorang Muslim. Crescent News (KL) Sdn.
Bhd. Bandar Baru Bangi, Selangor.
Al- Ghazzali (1995) : Ihya’ Ulum-Al-Din , Bayrut ; Dar-Al Fikr.
Priestley, P. Mc Guire, J.Flegg , D. Hemsley, V and Welham, D. ( 1982) Social skills
and Personal Problem Solving. Tavistok Publication. New York.
Sharma A.S. ( 2005 ) Counseling Psychology. Commonwealth Publisher, Delhi.