Kamis, Juni 25, 2009

METODE PEMBIASAAN SEBAGAI UPAYA INTERNALISASI NILAI AJARAN ISLAM

Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nilai. Karena lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan, yang hendak ditanamkan atau ditumbuhkembangkan ke dalam diri peserta didik sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya (Muhaimin: 159).
Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya tersebut adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, karena kegiatan–kegiatan keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara baik kepada peserta didik.
1.Metode Pembiasaan
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam mencapai tujuan tertentu (tujuan pendidikan). Banyak para tokoh yang mengemukakan definisi pendidikan, tetapi pada intinya pendidikan mempunyai beberapa unsur utama, yaitu:
a.Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan, atau pertolongan yang dilakukan secara sadar
b.Ada pendidik, pembimbing atau penolong
c.Ada yang dididik atau si terdidik
d.Adanya dasar atau tujuan dalam bimbingan tersebut
Dari unsur pendidikan di atas dapat diketahui bahwa fungsi metode sangat penting dalam proses belajar mengajar. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi pendidikan yang akan disampaikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman, yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan.
Metode pembiasaan juga digunakan oleh Al-qur’an dalam memberikan materi pendidikan melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan–kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai sesuatu yang istimewa. Ia banyak sekali menghemat kekuatan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi dan aktivitas lainnya (Abudin Nata: 100-101).
Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan sholat, tatkala mereka berumur tujuh tahun. Hal tersebut berdasarkan hadits di bawah ini:
مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِاالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فىِالمَضَاجِعِ (رواه أبوداوود)
Artinya: “Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. ( HR. Abu Dawud.
Membiasakan anak shalat, lebih-lebih dilakukan secara berjamaah itu penting. Sebab dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak dijumpai orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu seseorang harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan (Ramayulis: 184).
2.Internalisasi Nilai
Nilai adalah suatu penetapan atau kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis aspirasi atau minat (Nur Syam: 133). Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai di mana peserta didik diharapkan dapat bertindak, bergerak dan berkreasi dengan nilai-nilai tersebut.
Nilai ajaran Islam merupakan sistem yang diwujudkan dalam amal perilaku para pemeluknya, termasuk dalam hal ini anak, peserta didik maupun masyarakat pada umumnya. Sistem nilai agama Islam adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi dan mempunyai keterpaduan yang bulat yang berorientasi pada nilai Islam. Jadi bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu
Pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan (sentimen ) agama saja, akan tetapi ia menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan (amaliah) sehari-hari, yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan dirinya sendiri (Darajat: 107).
Internalisasi adalah upaya menghayati dan mendalami nilai, agar nilai tersebut tertanam dalam diri setiap manusia. Karena pendidikan agama Islam berorientasi pada pendidikan nilai sehingga perlu adanya proses internalisasi tersebut. Jadi internalisasi merupakan ke arah pertumbuhan batiniah atau rohaniah peserta didik. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari sesuatu “nilai” yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai itu dijadikan suatu “ sistem nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku, dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini.
Menurut Muhaimin, tahap-tahap dalam internalisasi nilai adalah:
a.Tahap transformasi nilai, pada tahap ini guru sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal.
b.Tahap transaksi nilai, yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dan guru bersifat timbal balik. Dalam tahap ini tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik dan yang buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta memberikan respons yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai itu.
c.Tahap transinternalisasi, yakni bahwa tahap ini lebih dalam daripada sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat secara aktif.
Jadi, internalisasi nilai sangatlah penting dalam pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai sehingga nilai-nilai tersebut dapat tertanam pada diri peserta didik, dengan pengembangan yang mengarah pada internalisasi nilai-nilai ajaran Islam merupakan tahap pada manifestasi manusia religius. Sebab tantangan untuk arus globalisasi dan transformasi budaya bagi peserta didik dan bagi manusia pada umumnya adalah difungsikannya nilai-nilai moral agama.
Pada tahap-tahap internalisasi ini diupayakan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Thoha: 94):
- Menyimak, yakni pendidik memberi stimulus kepada peserta didik dan peserta didik menangkap stimulus yang diberikan.
- Responding, peserta didik mulai ditanamkan pengertian dan kecintaan terhadap tata nilai tertentu, sehingga memiliki latar belakang Teoritik tentang sistem nilai, mampu memberikan argumentasi rasional dan selanjutnya peserta didik dapat memiliki komitmen tinggi terhadap nilai tersebut.
- Organization, peserta didik mulai dilatih mengatur sistem kepribadiannya disesuaikan dengan nilai yang ada.
- Characterization, apabila kepribadian sudah diatur disesuaikan dengan sistem nilai tertentu dan dilaksanakan berturut –turut, maka akan terbentuk kepribadian yang bersifat satunya hati, kata dan perbuatan. Teknik internalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan agama, khususnya pendidikan yang berkaitan dengan masalah aqidah, ibadah, dan akhlakul karimah.
3.Metode Pembiasaan sebagai Upaya Internalisasi Nilai Ajaran Islam
Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.
Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulang-ulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter.
Karakter itu terbentuk dari luar. Karakter terbentuk dari asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan antar manusia. Kedua unsur inilah yang membentuk karakter (Anis Matta; 67-70).
Pendidikan agama Islam sebagai pendidikan nilai maka perlu adanya pembiasaan-pembiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter yang Islami. Nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi karakter merupakan perpaduan yang bagus (sinergis) dalam membentuk peserta didik (remaja) yang berkualitas, di mana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebajikan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta untuk melakukannya.
Pembentukan karakter seseorang (terutama peserta didik) bersifat tidak alamiyah, sehingga dapat berubah dan dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kaidah umum dalam pembentukan karakter seperti diutarakan oleh Anis Matta adalah sebagai berikut :
a.Kaidah kebertahapan, proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap.
b.Kaidah kesinambungan, anda harus tetap berlatih seberapapun kecilnya porsi latihan tersebut, nilainya bukan pada besar kecilnya, tetapi pada kesinambungannya.
c.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya.
d.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu.
e.Kaidah pembimbing, anda mungkin bisa melakukannya seorang diri, tetapi itu tidak akan sempurna. Jadi, anda membutuhkan kawan yang berfungsi sebagai guru.
Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar